Progres Huntara Mulai Terlihat Jelas
Pembangunan hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak bencana di Sumatera Barat menunjukkan perkembangan yang semakin nyata. Rangka-rangka baja kini mulai berdiri di sejumlah lokasi, menandai fase penting dari upaya penanganan pascabencana yang dilakukan pemerintah bersama TNI.
Salah satu titik pembangunan yang paling terlihat progresnya berada di Lapangan Bola Nagari Salareh Aia, Jorong Kayu Pasak, Kecamatan Palambayan, Kabupaten Agam. Di lokasi ini, rangka huntara telah terpasang di atas tapak beton yang sudah mengering, bahkan sebagian unit mulai dipasangi dinding. Pemandangan tersebut menjadi simbol harapan baru bagi warga yang selama ini bertahan di pengungsian.
Peran Aktif TNI dalam Pembangunan
Pembangunan huntara ini mendapat dukungan penuh dari Tentara Nasional Indonesia (TNI). Personel dari Kodam XX/TIB, yang terdiri atas Kodim 0304/Agam, Yon TP/Singgalang, serta Denzipur 2/PS, terlibat langsung dalam proses pengerjaan.
Keterlibatan TNI tidak hanya mempercepat pembangunan, tetapi juga memastikan kualitas struktur bangunan tetap terjaga. Dengan pengalaman di bidang konstruksi lapangan dan penanganan darurat, TNI menjadi ujung tombak dalam memastikan huntara dapat segera ditempati sesuai target waktu yang ditetapkan.
Menurut keterangan resmi Pusat Penerangan TNI, kapasitas huntara yang dibangun di Sumatera Barat secara keseluruhan ditujukan untuk menampung ratusan kepala keluarga (KK) yang terdampak bencana alam.
Titik Pertama: Nagari Salareh Aia, Kabupaten Agam
Titik pertama pembangunan huntara berada di Jorong Kayu Pasak, Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palambayan, Kabupaten Agam. Di lokasi ini dibangun sebanyak 24 barak huntara dengan ukuran area sekitar 85 x 64 meter.
Huntara di titik ini dirancang untuk menampung 117 kepala keluarga. Sebanyak 106 personel dikerahkan untuk mempercepat proses pembangunan. Target pengerjaan ditetapkan mulai 15 hingga 30 Desember, dengan harapan seluruh unit sudah dapat digunakan sebelum akhir tahun.
Bagi warga Agam yang terdampak bencana, huntara ini menjadi solusi sementara yang sangat dinantikan. Hunian ini diharapkan mampu memberikan rasa aman dan layak, sembari menunggu proses rehabilitasi dan rekonstruksi rumah permanen.
Titik Kedua: Jorong Aia Angek, Kabupaten Lima Puluh Kota
Titik kedua pembangunan huntara berada di Jorong Aia Angek, Nagari Koto Tinggi, Kecamatan Gunung Omeh, Kabupaten Lima Puluh Kota. Di lokasi ini, sebanyak 60 unit huntara sedang dibangun di atas lahan berukuran 98 x 70 meter.
Huntara ini akan menampung 60 kepala keluarga. Lokasi Gunung Omeh yang memiliki kontur wilayah perbukitan menjadi tantangan tersendiri dalam pembangunan. Namun, dengan koordinasi lintas instansi dan keterlibatan TNI, pembangunan tetap berjalan sesuai rencana.
Titik Ketiga: Kota Padang
Di wilayah perkotaan, pembangunan huntara dilakukan di Kelurahan Kapalo Koto, Kecamatan Pauh, Kota Padang. Di titik ini dibangun sebanyak 100 unit huntara di atas lahan seluas sekitar 10 ribu meter persegi.
Huntara di Kota Padang ditujukan untuk 100 kepala keluarga. Pembangunan di kawasan ini diharapkan dapat mengurangi beban pengungsian warga yang terdampak bencana di wilayah perkotaan, sekaligus memastikan akses terhadap fasilitas umum seperti kesehatan dan pendidikan tetap terjaga.
Titik Keempat: Kabupaten Tanah Datar
Pembangunan huntara juga dilakukan di Kabupaten Tanah Datar. Di wilayah ini, pemerintah menyiapkan empat barak huntara dengan total luas sekitar 1.981 meter persegi.
Target pengerjaan di Tanah Datar relatif singkat, yakni dari 23 hingga 28 Desember. Meskipun jumlah barak lebih sedikit dibandingkan titik lain, keberadaan huntara ini sangat vital bagi warga yang kehilangan tempat tinggal akibat bencana.
Titik Kelima: Kabupaten Padang Pariaman
Titik kelima berada di Korong Asam Pulau, Nagari Anduriang, Kecamatan Kayutanam, Kabupaten Padang Pariaman. Di lokasi ini dibangun 34 unit huntara dengan ukuran area sekitar 80 x 55 meter.
Sebanyak 34 kepala keluarga akan menempati huntara di Padang Pariaman. Wilayah ini termasuk daerah rawan bencana, sehingga pembangunan hunian sementara menjadi langkah krusial untuk melindungi warga dari risiko lanjutan.
Titik Keenam: Kabupaten Pesisir Selatan
Titik terakhir pembangunan huntara berada di Nagari Pulut-Pulut, Kecamatan Bayang Utara, Kabupaten Pesisir Selatan. Di atas lahan milik pemerintah daerah seluas 2.261 meter persegi, dibangun sebanyak 20 unit huntara.
Menariknya, huntara di Pesisir Selatan dirancang untuk menampung hingga 73 kepala keluarga. Hal ini menunjukkan adanya desain hunian yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi lapangan.
Huntara sebagai Solusi Transisi Pascabencana
Hunian sementara bukan sekadar bangunan darurat, melainkan solusi transisi penting bagi warga terdampak bencana. Huntara memberikan ruang aman, layak, dan terorganisir, sehingga warga dapat kembali menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih stabil.
Keberadaan huntara juga membantu pemerintah dalam menata ulang kawasan terdampak, sekaligus memberikan waktu untuk merencanakan pembangunan hunian permanen yang lebih aman dan tahan bencana.
Harapan Warga dan Tantangan ke Depan
Bagi warga yang telah berbulan-bulan hidup di pengungsian, progres pembangunan huntara menjadi kabar yang menenangkan. Rangka yang mulai terpasang dan dinding yang berdiri menjadi tanda bahwa masa sulit perlahan menuju akhir.
Namun demikian, tantangan masih ada. Penyelesaian tepat waktu, ketersediaan fasilitas dasar seperti air bersih dan sanitasi, serta pengelolaan lingkungan huntara menjadi pekerjaan lanjutan yang perlu diperhatikan.
Penutup
Progres pembangunan hunian sementara di Sumatera Barat menunjukkan komitmen kuat pemerintah dan TNI dalam menangani dampak bencana. Dengan enam titik pembangunan yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota, ratusan keluarga diharapkan segera mendapatkan tempat tinggal sementara yang layak.
Rangka huntara yang kini mulai berdiri bukan hanya struktur baja dan beton, tetapi juga simbol harapan bagi masyarakat Sumbar untuk bangkit dan melangkah menuju pemulihan yang lebih baik.
Baca Juga : Program Rp100 Juta per RT Penajam Dorong Pemerataan Pembangunan
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : podiumnews

