Amerika Serikat secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap gencatan senjata yang tengah berlangsung di kota Aleppo, Suriah utara. Washington menyebut kesepakatan tersebut sebagai perkembangan diplomatik penting setelah beberapa hari bentrokan sengit yang kembali mengguncang kawasan itu.
Mengutip laporan media Turki, dukungan tersebut disampaikan langsung oleh Utusan Khusus Amerika Serikat untuk Suriah, Tom Barrack. Ia mengatakan bahwa pemerintah Amerika Serikat “menyambut dengan hangat gencatan senjata sementara yang dicapai tadi malam” di kawasan Ashrafiyeh dan Sheikh Maqsoud, dua distrik yang selama ini menjadi titik panas konflik di Aleppo.
Washington Nilai Gencatan Senjata sebagai Jeda Krusial
Dalam pernyataannya, Barrack menilai kesepakatan gencatan senjata ini sebagai jeda krusial yang lahir dari kerja sama pihak-pihak yang sebelumnya terlibat dalam konflik terbuka. Ia menyebut kesepakatan tersebut terwujud berkat “pengendalian diri dan itikad baik” semua aktor yang terlibat di lapangan.
Menurut Barrack, gencatan senjata ini merupakan langkah awal yang penting untuk mengarahkan berbagai komunitas di Suriah menuju satu jalur bersama. Jalur tersebut, katanya, mengarah pada keamanan, inklusivitas, dan perdamaian berkelanjutan, meskipun tantangan besar masih membayangi upaya stabilisasi jangka panjang.
Upaya Memperpanjang Masa Gencatan Senjata
Barrack juga menegaskan bahwa para diplomat Amerika Serikat saat ini bekerja secara intensif untuk memperpanjang gencatan senjata yang semula dijadwalkan berakhir pada pukul 09.00 waktu setempat. Menurutnya, menjaga apa yang ia sebut sebagai “semangat saling pengertian” menjadi kunci agar kesepakatan ini tidak runtuh dalam waktu singkat.
Ia menilai keberlangsungan gencatan senjata di Aleppo akan menjadi indikator penting apakah jalur diplomasi masih memungkinkan di tengah lanskap konflik Suriah yang sangat kompleks.
Latar Belakang Bentrokan di Aleppo
Gencatan senjata ini menyusul beberapa hari pertempuran berat di Aleppo yang berujung pada pengambilalihan kembali distrik Ashrafiyeh oleh Tentara Suriah. Operasi tersebut dilakukan setelah pasukan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didukung Amerika Serikat menarik diri dari wilayah itu.
Menurut laporan lapangan, operasi militer tersebut dilancarkan sebagai respons atas serangan SDF yang dilaporkan menewaskan sedikitnya sembilan warga sipil. Peristiwa ini memperburuk situasi keamanan dan memicu eskalasi konflik di wilayah perkotaan yang padat penduduk.
Runtuhnya Kesepakatan Politik 2025
Perkembangan di Aleppo juga menegaskan runtuhnya kesepakatan politik yang ditandatangani pada Maret 2025. Kesepakatan tersebut sebelumnya mengatur integrasi SDF ke dalam institusi negara Suriah sebagai bagian dari upaya menjaga keutuhan wilayah nasional.
Pemerintah di Damaskus menuduh SDF tidak menjalankan satu pun ketentuan dalam perjanjian tersebut. Tuduhan ini menjadi dasar bagi pemerintah pusat untuk kembali mengambil alih wilayah-wilayah strategis yang sebelumnya berada di bawah kendali kelompok tersebut.
Aleppo sebagai Ujian Stabilitas Suriah Pascaperang
Situasi di Aleppo mencerminkan rapuhnya lanskap keamanan Suriah pascaperang. Sejak jatuhnya pemerintahan Presiden Bashar al-Assad pada 8 Desember 2024, pemerintah baru Suriah terus berupaya memulihkan kendali negara atas seluruh wilayah.
Aleppo, sebagai kota terbesar Suriah dan simpul penting berbagai kepentingan lokal maupun internasional, dipandang sebagai ujian utama bagi kemampuan pemerintah baru dalam menjaga stabilitas dan mencegah kembalinya konflik berskala besar.
Sinyal Pendekatan Pragmatis Amerika Serikat
Dukungan Amerika Serikat terhadap gencatan senjata ini menarik perhatian karena Washington sebelumnya dikenal sebagai pendukung utama SDF. Sikap ini dinilai mencerminkan pendekatan yang lebih pragmatis, dengan fokus pada stabilisasi wilayah yang kembali dikuasai pemerintah pusat serta pencegahan meluasnya pertempuran di Aleppo.
Bagi banyak pengamat, dukungan AS terhadap gencatan senjata di Aleppo menunjukkan adanya pergeseran prioritas, dari dukungan aktor lokal semata menuju upaya menjaga stabilitas regional yang lebih luas.
Meski masih bersifat rapuh, gencatan senjata ini dipandang sebagai peluang langka untuk meredakan kekerasan dan membuka ruang dialog di salah satu kota paling strategis di Suriah.
Baca Juga : Pembinaan Pancasila Lindungi Anak Jepara dari Paparan Ekstremisme
Cek Juga Artikel Dari Platform : beritagram

