Pembangunan Pemuda Harus Terukur Dampaknya

Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menegaskan bahwa pembangunan kepemudaan tidak cukup diukur dari banyaknya program atau kegiatan yang dijalankan. Menurutnya, tolok ukur utama keberhasilan pembangunan pemuda terletak pada dampak nyata yang dirasakan langsung oleh anak muda. Penegasan tersebut disampaikannya saat membuka kegiatan peluncuran buku yang membahas pengukuran Indeks Pembangunan Pemuda di Kota Makassar.

Dalam kesempatan tersebut, Munafri menekankan bahwa setiap kebijakan pemerintah seharusnya memiliki orientasi pada manfaat. Pembangunan kepemudaan, kata dia, harus mampu mendorong perubahan positif dalam kehidupan pemuda, baik dari sisi kapasitas, partisipasi, maupun kemandirian.

Peluncuran Buku IPP Jadi Momentum Evaluasi

Kegiatan peluncuran buku berjudul Tumbuh dan Bergerak: Catatan Perjalanan Mengukur Indeks Pembangunan Pemuda di Kota Makassar menjadi bagian dari proses pembaruan perhitungan Indeks Pembangunan Pemuda. Agenda ini digelar oleh Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Makassar dan dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, mulai dari unsur pemerintah daerah, akademisi, hingga komunitas kepemudaan.

Forum ini dinilai sebagai ruang refleksi bersama untuk melihat sejauh mana kebijakan dan program yang telah dijalankan benar-benar menjawab kebutuhan pemuda. Bagi Munafri, pengukuran IPP tidak boleh berhenti pada angka, melainkan harus dibaca sebagai cerminan kualitas pembangunan kepemudaan.

Kepemudaan dan Dampak Kebijakan

Dalam sambutannya, Munafri menyampaikan bahwa membicarakan kepemudaan pada dasarnya adalah membicarakan dampak kebijakan. Ia menilai penting bagi pemerintah untuk terus mengevaluasi apakah pendekatan yang digunakan selama ini sudah tepat dan relevan dengan kondisi pemuda.

Menurutnya, peningkatan Indeks Pembangunan Pemuda yang tercatat dibandingkan tahun sebelumnya dapat menjadi indikator awal bahwa program yang dijalankan mulai memberikan hasil. Namun, peningkatan tersebut tetap perlu diterjemahkan ke dalam perubahan nyata di lapangan.

Makassar Creative Hub sebagai Contoh Kebijakan Berdampak

Salah satu contoh kebijakan yang dinilai memberikan dampak nyata adalah kehadiran Makassar Creative Hub. Munafri menyebut MCH bukan sekadar bangunan fisik, melainkan hasil dari kajian yang bertujuan menjawab kebutuhan dan aspirasi anak muda di Kota Makassar.

Ia menjelaskan bahwa MCH dirancang sebagai ruang terbuka bagi pemuda untuk berekspresi, berkreasi, dan meningkatkan kapasitas diri. Kehadiran fasilitas ini dinilai mampu menjembatani potensi pemuda dengan peluang pengembangan keterampilan yang lebih luas.

Ruang Kreatif yang Dimanfaatkan Ribuan Pemuda

Hingga saat ini, Makassar Creative Hub telah dimanfaatkan oleh puluhan ribu masyarakat, khususnya generasi muda. Munafri menilai angka tersebut menjadi bukti bahwa fasilitas yang disediakan benar-benar dibutuhkan dan relevan dengan kebutuhan pemuda.

MCH tidak hanya digunakan untuk kegiatan komunitas lokal, tetapi juga menjadi tuan rumah berbagai agenda berskala nasional hingga internasional. Kondisi ini menunjukkan bahwa pemuda Makassar memiliki kapasitas untuk berkontribusi di level yang lebih luas jika diberikan ruang dan dukungan yang memadai.

Upgrading Skill Jadi Fokus Utama

Munafri menambahkan bahwa MCH telah berperan sebagai pusat peningkatan kapasitas pemuda. Berbagai pelatihan, diskusi, dan kegiatan kreatif yang berlangsung di MCH mendorong pemuda untuk terus mengembangkan keterampilan dan pengetahuan mereka.

Bagi pemerintah kota, peningkatan kapasitas ini menjadi bagian penting dari pembangunan kepemudaan. Pemuda yang memiliki keterampilan dan kepercayaan diri dinilai lebih siap berkontribusi dalam pembangunan daerah.

Perluasan Akses Ruang Kreatif

Pemerintah Kota Makassar berkomitmen untuk terus memperluas akses ruang kreatif bagi generasi muda. Pada tahun ini, Makassar Creative Hub telah bertambah satu lokasi baru di kawasan Jalan Nusantara. Penambahan ini dilakukan untuk menjangkau lebih banyak pemuda di berbagai wilayah kota.

Ke depan, rencana pengembangan ruang kreatif akan terus dilanjutkan. Pemerintah menargetkan penambahan dua MCH baru pada tahun 2026 dan empat MCH tambahan pada tahun 2027. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat ekosistem kreatif pemuda di Makassar.

Fasilitas Gratis sebagai Bentuk Keberpihakan

Munafri menegaskan bahwa seluruh fasilitas MCH yang digunakan oleh pemuda disediakan secara gratis. Kebijakan ini diambil sebagai bentuk keberpihakan pemerintah agar pemuda tidak terhambat oleh keterbatasan akses dan fasilitas.

Menurutnya, pemerintah memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa ruang pengembangan diri dapat diakses oleh semua kalangan, tanpa memandang latar belakang ekonomi. Dengan fasilitas yang inklusif, potensi pemuda diharapkan dapat tumbuh secara lebih merata.

Pemberdayaan Jadi Bagian Penting Pembangunan

Lebih lanjut, Wali Kota Makassar menekankan bahwa pembangunan kepemudaan tidak berhenti pada penyediaan fasilitas fisik. Aspek pemberdayaan dinilai sama pentingnya agar pemuda tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga pelaku aktif dalam pembangunan.

Ia mendorong agar pemuda dilibatkan dalam struktur dan proses pembangunan daerah. Keterlibatan ini mencakup ruang partisipasi dalam perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi program pembangunan.

Pemuda sebagai Subjek Pembangunan

Munafri berharap melalui berbagai kebijakan yang dijalankan, Kota Makassar dapat melahirkan generasi muda yang berdaya dan mandiri. Pemuda diharapkan tidak lagi diposisikan sebagai objek pembangunan, melainkan sebagai subjek dan penggerak utama perubahan.

Dengan Indeks Pembangunan Pemuda sebagai alat ukur, pemerintah daerah berupaya memastikan bahwa setiap kebijakan benar-benar berdampak. Melalui pendekatan ini, Makassar diharapkan mampu membangun ekosistem kepemudaan yang kuat, berkelanjutan, dan berorientasi pada masa depan.

Baca Juga : Prabowo Terima Progres Pembangunan Kampung Haji Indonesia

Jangan Lewatkan Info Penting Dari : dailyinfo

By Blacky