Pembukaan Penyeberangan Rafah Jadi Ujian Gencatan Senjata Israel–Hamas

Rencana pembukaan kembali Penyeberangan Rafah menjadi momen krusial dalam dinamika gencatan senjata antara Israel dan Hamas. Titik perlintasan yang menghubungkan Jalur Gaza dengan Mesir ini dijadwalkan kembali dibuka bagi pejalan kaki, setelah hampir dua tahun sebagian besar ditutup menyusul pengambilalihan sisi Palestina oleh pasukan Israel.

Pembukaan Rafah tidak sekadar persoalan teknis perbatasan. Langkah ini dipandang sebagai ujian nyata keberlanjutan gencatan senjata, sekaligus indikator sejauh mana komitmen para pihak dalam menjalankan fase lanjutan rencana perdamaian yang digagas Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk wilayah Palestina.


Akses Vital Bagi Kehidupan Warga Gaza

Selama bertahun-tahun, Penyeberangan Rafah dikenal sebagai “urat nadi” Gaza. Berbeda dengan perlintasan lain yang dikendalikan Israel, Rafah merupakan satu-satunya pintu keluar-masuk Gaza yang tidak secara langsung berada di bawah otoritas Israel. Karena itu, keberadaannya sangat menentukan mobilitas warga sipil, pasien medis, mahasiswa, hingga arus bantuan kemanusiaan.

Badan Kementerian Pertahanan Israel yang mengoordinasikan urusan sipil Palestina, COGAT, menyatakan bahwa Rafah akan dibuka untuk pergerakan penduduk “ke dua arah”. Sumber-sumber kemanusiaan menyebut kelompok pertama yang kemungkinan diizinkan melintas adalah pasien medis, seiring terlihatnya ambulans yang telah bersiap di sisi Mesir untuk proses evakuasi.


Rafah di Tengah Gencatan Senjata

Pembukaan kembali Rafah terjadi di tengah gencatan senjata yang masih rapuh. Dalam konteks ini, Rafah bukan hanya jalur fisik, tetapi juga simbol kepercayaan antara pihak-pihak yang bertikai. Kegagalan mengelola perlintasan ini secara aman dan terbuka berpotensi memicu ketegangan baru.

Lokasi Rafah saat ini berada di area yang dikuasai pasukan Israel setelah mereka menarik diri ke belakang garis yang dikenal sebagai “Yellow Line”, sesuai kesepakatan gencatan senjata. Kondisi ini menempatkan Rafah dalam pengawasan keamanan ketat, meski secara administratif diharapkan dapat kembali melayani warga sipil.


Di Bawah Kendali Keamanan Israel

Sejak militer Israel mengambil alih sisi Palestina Rafah, perlintasan ini praktis lumpuh. Israel berdalih kawasan tersebut digunakan untuk aktivitas terorisme, sehingga diperlukan pengamanan ekstra. Akibatnya, akses warga dan lembaga internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, ikut terdampak.

Rafah sempat dibuka terbatas untuk evakuasi medis saat gencatan senjata singkat sebelumnya. Kini, Israel menegaskan bahwa setiap individu yang melintas akan melalui pemeriksaan keamanan ketat, dengan proses administratif yang direncanakan berada di bawah badan teknokratis Palestina beranggotakan 15 orang.

Namun hingga kini, belum ada kejelasan mengenai jumlah warga Palestina yang akan diizinkan melintas setiap hari. Sumber menyebut Mesir siap menerima seluruh warga yang telah mendapatkan persetujuan Israel, menandakan peran Kairo sebagai aktor kunci dalam implementasi kebijakan ini.


Peran Uni Eropa dan Otoritas Palestina

Pembukaan Rafah juga melibatkan peran internasional, khususnya Uni Eropa. Menurut COGAT, fase uji coba awal telah dimulai melalui koordinasi dengan European Union Border Assistance Mission (EUBAM), Mesir, serta pemangku kepentingan terkait.

EUBAM sendiri merupakan misi sipil Uni Eropa yang dibentuk pada 2005 untuk memantau operasional Rafah. Misi ini sempat dihentikan setelah Hamas mengambil alih Gaza, lalu beberapa kali dikerahkan kembali secara terbatas. Kini, EUBAM direncanakan mengelola sisi Palestina Rafah bersama delegasi Otoritas Palestina, menandai upaya internasional menghidupkan kembali mekanisme pengawasan yang lebih netral.


Harapan dan Keraguan atas Bantuan Kemanusiaan

Salah satu poin krusial dari rencana perdamaian Trump adalah masuknya sekitar 600 truk bantuan per hari ke Gaza. Namun, kelompok kemanusiaan menilai implementasinya masih jauh dari harapan. Meski Rafah dibuka, distribusi bantuan belum sepenuhnya lancar.

Saat ini, sebagian besar bantuan masuk melalui Kerem Shalom Crossing, perlintasan yang dikelola Israel dengan prosedur keamanan ketat. Dua sumber bantuan di sisi Mesir mengatakan kepada Agence France-Presse (AFP) bahwa Israel masih mengembalikan puluhan truk tanpa dibongkar, menghambat distribusi bantuan ke warga Gaza yang membutuhkan.

Situasi ini memunculkan kekhawatiran bahwa pembukaan Rafah hanya bersifat simbolik jika tidak diikuti kelonggaran nyata dalam arus bantuan.


Ujian Nyata bagi Gencatan Senjata

Bagi komunitas internasional, pembukaan Rafah menjadi barometer penting untuk menilai keberlanjutan gencatan senjata Israel–Hamas. Jika Rafah dapat berfungsi normal—baik untuk mobilitas warga maupun bantuan kemanusiaan—maka peluang stabilitas jangka menengah di Gaza dinilai meningkat.

Sebaliknya, jika pembukaan ini tersendat oleh kepentingan politik dan keamanan, ketegangan berpotensi kembali meningkat. Dalam konteks ini, Rafah bukan sekadar perlintasan, melainkan cermin komitmen perdamaian di wilayah yang telah lama dilanda konflik.


Penutup

Pembukaan kembali Penyeberangan Rafah menandai babak penting dalam dinamika gencatan senjata Israel–Hamas. Di satu sisi, langkah ini membuka harapan bagi warga Gaza yang selama ini terisolasi. Di sisi lain, berbagai pembatasan keamanan dan hambatan distribusi bantuan menunjukkan bahwa jalan menuju stabilitas masih panjang.

Rafah kini menjadi ujian nyata: apakah gencatan senjata dapat diterjemahkan menjadi perbaikan konkret bagi kehidupan warga sipil, atau sekadar jeda sementara dalam konflik berkepanjangan. Dunia internasional akan terus memantau bagaimana perlintasan ini dijalankan dalam hari-hari mendatang.

Baca Juga : Warga Ketol Andalkan Jembatan Sling Pascabencana

Cek Juga Artikel Dari Platform : baliutama

By Blacky