beritapembangunan.web.id Rencana pembangunan Koperasi Desa Merah Putih di Desa Cingkrong menuai penolakan dari warga dan tokoh masyarakat setempat. Penolakan tersebut muncul karena lokasi pembangunan yang direncanakan berada di atas bangunan Madrasah Diniyah Cingkrong, sebuah lembaga pendidikan keagamaan yang telah berdiri selama lebih dari empat dekade dan hingga kini masih aktif digunakan.

Bagi masyarakat Desa Cingkrong, Kecamatan Purwodadi, Madrasah Diniyah bukan sekadar bangunan fisik. Lembaga tersebut telah menjadi bagian penting dari kehidupan sosial dan keagamaan desa, tempat anak-anak belajar nilai-nilai agama, etika, dan kebersamaan sejak usia dini.

Madrasah Diniyah sebagai Pilar Kehidupan Desa

Madrasah Diniyah di lingkungan masjid desa dikenal sebagai pusat pendidikan agama nonformal yang telah melayani generasi demi generasi. Selama puluhan tahun, Madin ini menjadi ruang pembelajaran Al-Qur’an, fikih dasar, dan akhlak bagi anak-anak Desa Cingkrong. Banyak warga menilai bahwa keberadaan Madin telah berkontribusi besar dalam membentuk karakter masyarakat yang religius dan rukun.

Oleh karena itu, rencana penggusuran Madin demi pembangunan gedung koperasi dinilai tidak sejalan dengan nilai-nilai yang selama ini dijunjung masyarakat desa. Warga menilai pembangunan ekonomi memang penting, namun tidak semestinya mengorbankan lembaga pendidikan keagamaan yang telah mengakar kuat.

Suara Penolakan dari Masyarakat

Penolakan terhadap rencana tersebut disampaikan secara terbuka oleh ratusan warga. Mereka menyatakan ketidaksetujuan atas rencana pengalihan fungsi lahan Madin. Bagi warga, Madrasah Diniyah adalah simbol keberlanjutan tradisi pendidikan agama yang harus dilindungi, bukan digusur.

Salah satu tokoh masyarakat, Wajoyo, menegaskan bahwa Madrasah Diniyah tidak semestinya dipindahkan atau dihilangkan dengan alasan apa pun. Menurutnya, Madin telah berdiri lebih dari empat puluh tahun dan menjadi saksi perjalanan pendidikan agama anak-anak desa dari generasi ke generasi.

Dilema antara Pembangunan dan Pelestarian Nilai

Rencana pembangunan KDMP sejatinya bertujuan meningkatkan perekonomian desa melalui penguatan koperasi. Namun, warga menilai lokasi pembangunan perlu dikaji ulang agar tidak menimbulkan konflik sosial. Pembangunan yang tidak mempertimbangkan aspek sosial dan budaya berpotensi memecah kebersamaan yang selama ini terjaga.

Banyak warga berpendapat bahwa pembangunan ekonomi dan pelestarian nilai keagamaan seharusnya dapat berjalan beriringan. Mereka mendorong agar pemerintah desa dan pihak terkait mencari alternatif lahan lain yang tidak mengorbankan fasilitas pendidikan keagamaan.

Kekhawatiran Hilangnya Fungsi Pendidikan

Selain persoalan simbolik, warga juga mengkhawatirkan hilangnya fungsi pendidikan jika Madin digusur. Hingga kini, Madrasah Diniyah masih aktif digunakan oleh anak-anak desa. Pemindahan lokasi atau penghapusan Madin dikhawatirkan akan mengganggu proses belajar mengajar dan mengurangi akses pendidikan agama bagi generasi muda.

Beberapa orang tua menyampaikan kekhawatiran bahwa jika Madin dipindahkan terlalu jauh atau tidak memiliki fasilitas memadai, minat anak-anak untuk mengikuti pendidikan keagamaan akan menurun. Hal ini dinilai berpotensi berdampak jangka panjang terhadap karakter dan moral generasi mendatang.

Harapan Dialog dan Musyawarah

Masyarakat Desa Cingkrong berharap persoalan ini dapat diselesaikan melalui dialog terbuka dan musyawarah. Warga meminta agar aspirasi mereka didengar dan dipertimbangkan secara serius oleh pihak pengambil kebijakan. Mereka menekankan bahwa penolakan ini bukan bentuk anti pembangunan, melainkan upaya menjaga keseimbangan antara kemajuan ekonomi dan kelestarian nilai-nilai lokal.

Tokoh masyarakat juga mendorong agar setiap rencana pembangunan melibatkan partisipasi warga sejak awal. Dengan keterlibatan masyarakat, keputusan yang diambil diharapkan dapat diterima bersama dan tidak menimbulkan konflik berkepanjangan.

Pentingnya Perencanaan Pembangunan yang Sensitif Sosial

Kasus di Desa Cingkrong menjadi contoh pentingnya perencanaan pembangunan yang sensitif terhadap konteks sosial dan budaya. Pembangunan desa tidak hanya berbicara soal infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga menyangkut identitas, tradisi, dan kebutuhan sosial masyarakat.

Pakar pembangunan desa kerap menekankan bahwa keberhasilan pembangunan diukur bukan hanya dari berdirinya bangunan baru, tetapi dari sejauh mana pembangunan tersebut meningkatkan kesejahteraan tanpa merusak tatanan sosial yang ada.

Menjaga Harmoni Desa

Hingga kini, warga Desa Cingkrong masih berharap ada solusi terbaik yang dapat menjaga harmoni desa. Mereka ingin pembangunan koperasi tetap berjalan, namun tanpa harus mengorbankan Madrasah Diniyah yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan desa.

Penolakan ini diharapkan menjadi bahan evaluasi bagi semua pihak agar pembangunan desa benar-benar berpihak pada kepentingan bersama. Dengan dialog yang konstruktif dan perencanaan yang matang, Desa Cingkrong diyakini mampu menemukan jalan tengah antara pembangunan ekonomi dan pelestarian nilai keagamaan yang telah lama dijaga.

Cek Juga Artikel Dari Platform musicpromote.online

By Blacky