Warga Ketol Aceh Tengah Andalkan Jembatan Tali Sling untuk Sebrangi Sungai
Pascabencana banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah Aceh Tengah, kehidupan warga di sejumlah desa masih jauh dari kata normal. Di Kecamatan Ketol dan Kecamatan Linge, masyarakat terpaksa mengandalkan jembatan darurat berupa tali sling untuk menyeberangi sungai demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Sedikitnya tiga desa di Kecamatan Ketol dan lima desa di Kecamatan Linge hingga kini belum memiliki akses jembatan permanen. Kondisi tersebut membuat warga harus bertaruh keselamatan setiap hari saat menyeberang, baik untuk mencari logistik, menjual hasil pertanian, maupun mengakses layanan dasar di wilayah seberang sungai.
Jembatan Darurat Jadi Satu-satunya Akses Hidup
Bagi warga setempat, jembatan sling bukan sekadar alat penyeberangan, melainkan urat nadi kehidupan. Tanpa jembatan tersebut, aktivitas ekonomi dan sosial warga praktis terputus. Sungai yang membelah wilayah itu menjadi penghalang besar sejak jembatan utama rusak diterjang banjir bandang.
Hingga saat ini, belum ada alternatif lain selain menggunakan jembatan darurat. Warga dari desa-desa di Ketol harus menyeberang menuju Desa Meriah Jaya, Desa Bergang, Desa Karang Ampar, dan Desa Pantan Reduk untuk melakukan transaksi jual beli dan memenuhi kebutuhan pokok.
Digunakan Lebih dari Dua Bulan
Jalur ekstrem berupa jembatan sling ini telah digunakan lebih dari dua bulan. Dalam kurun waktu tersebut, warga perlahan terbiasa dengan risiko yang ada, meski rasa waswas tetap menghantui setiap kali melintas.
Setiap hari, warga harus menjaga keseimbangan tubuh di atas tali sling sambil membawa beban di pundak atau di punggung. Tidak jarang, mereka menyeberang sambil memikul hasil panen seperti palawija, kopi, hingga hasil kebun lainnya.
Kondisi ini memperlihatkan ketangguhan masyarakat desa yang tetap berusaha bertahan di tengah keterbatasan infrastruktur pascabencana.
Hasil Panen Dibawa Lewat Jembatan Sling
Aktivitas pertanian tetap berjalan meski akses sangat terbatas. Bahkan, pada musim panen durian, warga tetap nekat menyeberang dengan membawa hasil kebun bernilai ekonomi tinggi tersebut. Durian yang menjadi komoditas andalan daerah harus dibawa ke seberang agar bisa dijual ke pasar.
Bagi warga, tidak ada pilihan lain. Jika hasil panen tidak segera dibawa keluar desa, maka potensi kerugian akan semakin besar. Kondisi ini membuat jembatan sling menjadi solusi darurat yang mutlak digunakan, meskipun berisiko tinggi.
Suara Warga: Sulit Tapi Harus Dilalui
Salah satu warga, Ramadhan, mengungkapkan bahwa jembatan sling menjadi satu-satunya akses yang tersedia saat ini. Meski sulit dan berbahaya, warga tidak memiliki alternatif lain.
Menurutnya, warga sangat berharap pembangunan jembatan baru dapat segera rampung. Jembatan tersebut dinilai sangat penting agar roda ekonomi desa bisa kembali bergerak normal dan warga tidak lagi terisolasi.
Pembangunan Jembatan Darurat Sedang Dikerjakan
Kabar baiknya, upaya pembangunan jembatan darurat mulai dilakukan di kawasan jembatan Ayun. Pekerjaan tersebut diharapkan dapat menjadi solusi sementara sebelum jembatan permanen dibangun.
Jembatan baru ini ditargetkan dapat berfungsi dalam waktu sekitar satu minggu ke depan. Jika rampung sesuai rencana, akses antarwilayah akan kembali terbuka dan aktivitas ekonomi warga dapat berjalan lebih aman.
Ancaman Isolasi dan Dampak Sosial
Selama akses jembatan belum pulih sepenuhnya, warga desa menghadapi ancaman isolasi berkepanjangan. Tidak hanya sektor ekonomi yang terdampak, tetapi juga akses pendidikan, kesehatan, dan distribusi bantuan logistik.
Anak-anak sekolah, misalnya, harus menempuh jalur berbahaya jika ingin melanjutkan aktivitas belajar. Begitu pula warga yang membutuhkan layanan kesehatan harus menyeberang sungai dengan risiko tinggi.
Situasi ini memperlihatkan betapa krusialnya infrastruktur dasar dalam menjaga keberlangsungan hidup masyarakat pascabencana.
Harapan Besar pada Pemerintah
Warga berharap pemerintah daerah dan pusat dapat memberikan perhatian lebih terhadap pembangunan infrastruktur pascabencana di wilayah pedalaman Aceh Tengah. Jembatan permanen dinilai sebagai solusi jangka panjang agar kejadian serupa tidak terus berulang setiap kali bencana datang.
Selain itu, percepatan pembangunan infrastruktur di wilayah rawan bencana diharapkan dapat meningkatkan ketahanan masyarakat sekaligus meminimalkan risiko korban jiwa di masa mendatang.
Penutup
Ketergantungan warga Kecamatan Ketol dan Linge terhadap jembatan sling menggambarkan kerasnya perjuangan hidup pascabencana banjir bandang dan longsor di Aceh Tengah. Selama lebih dari dua bulan, jembatan darurat menjadi satu-satunya penghubung bagi warga untuk bertahan dan melanjutkan kehidupan.
Dengan dimulainya pembangunan jembatan darurat, harapan baru mulai tumbuh. Warga berharap akses yang lebih aman segera terwujud agar mereka tidak lagi terisolasi dan dapat kembali menjalani kehidupan secara normal dengan rasa aman dan layak.
Baca Juga : Berapa Gaji Gubernur Bank Indonesia? Ini Rinciannya
Cek Juga Artikel Dari Platform : marihidupsehat

