Batfest Jadi Ruang Ekspresi Kolektif Masyarakat

Batulicin Festival (Batfest) 2025 kembali digelar sebagai salah satu festival musik dan budaya terbesar di Kalimantan Selatan. Acara yang berlangsung selama lima hari, 27–31 Desember 2025, ini menjadi ruang pertemuan berbagai ekspresi masyarakat, mulai dari musik, budaya daerah, hingga aktivitas sosial.

Bertempat di Jhonlin Pantai Festival, Batfest 2025 menghadirkan konsep kolaboratif yang menyatukan musisi nasional, band lokal, pelaku budaya, serta UMKM dalam satu rangkaian acara terbuka untuk publik.

Kolaborasi Musisi Nasional dan Lokal

Sejumlah nama besar turut meramaikan panggung Batfest 2025, di antaranya Raisa, Lyodra, Rizky Febian, NDX A.K.A., hingga Wali. Kehadiran mereka menjadi magnet bagi puluhan ribu penonton dari berbagai daerah.

Namun, kekuatan utama Batfest justru terletak pada keberaniannya memberi panggung utama bagi band-band lokal Batulicin. Salah satu yang mencuri perhatian adalah Senja Jingga.

Kebanggaan Band Lokal Tampil di Festival Besar

Dua personel Senja Jingga, Aldy dan Arie, mengaku bangga dapat kembali tampil di Batfest 2025. Penampilan kali ini menjadi yang kedua bagi mereka, sekaligus momentum penting dalam perjalanan musik band tersebut.

Menurut mereka, Batfest memberi exposure yang sangat besar bagi karya musik lokal. Lagu-lagu yang sebelumnya belum banyak dikenal kini mulai dinyanyikan bersama oleh penonton, sebuah pengalaman yang jarang mereka rasakan sebelumnya.

Komitmen Memberi Panggung untuk Daerah

Festival Director Batfest 2025, Alinka Hardianti, menegaskan bahwa sejak awal Batfest dirancang sebagai ruang tumbuh bagi musisi daerah.

Menurutnya, tampil satu panggung dengan musisi nasional bukan sekadar pengalaman, tetapi juga batu loncatan agar band lokal memiliki jenjang menuju level yang lebih tinggi. Batfest diharapkan menjadi ekosistem yang mendorong kepercayaan diri dan profesionalisme musisi daerah.

Eksplorasi Musik dan Budaya Lokal

Selain Senja Jingga, band lokal lain yang mencuri perhatian adalah Primitive Monkey Noose. Band ini tampil unik dengan memadukan musik punk rock dan alat musik tradisional Panting.

Vokalis Primitive Monkey Noose, Richie Petroza, menyebut kesempatan tampil di Batfest sebagai pengalaman berharga. Sejak 2022, band ini rutin tampil di Batfest dengan audiens puluhan ribu penonton, sebuah panggung yang jarang didapatkan band lokal.

Musik Tradisional dalam Wajah Baru

Richie mengungkapkan tantangan terbesar mereka adalah memperkenalkan alat musik Panting ke ranah musik yang belum pernah disentuh sebelumnya. Perpaduan tradisi dan genre modern menjadi bentuk eksplorasi kreatif yang sejalan dengan semangat Batfest.

Eksperimen ini menunjukkan bahwa budaya lokal tidak harus terjebak dalam bentuk konvensional, melainkan dapat bertransformasi dan berdialog dengan musik modern.

Tata Panggung yang Terus Berkembang

Di balik kelancaran acara, peran Show Director Batfest 2025, Ineth Leimena, menjadi krusial. Ia menyebut 2025 sebagai tahun keempat keterlibatannya dalam Batfest.

Salah satu perubahan signifikan tahun ini adalah penataan panggung. Setelah evaluasi dua tahun pertama, posisi panggung dipindahkan meski menghadap langsung ke laut. Tantangan teknis tersebut justru menghadirkan kenyamanan visual dan ruang yang lebih baik bagi penonton.

Budaya Daerah Hadir di Panggung Utama

Batfest 2025 tidak hanya soal musik. Parade kostum budaya turut menjadi daya tarik utama, terutama pada opening acara. Pelaku UMKM Galeri Bawi Lamus menampilkan busana adat Dayak yang dikenakan para penari.

Maria dari Galeri Bawi Lamus menjelaskan bahwa seluruh busana penari opening diproduksi oleh pihaknya. Keterlibatan UMKM budaya ini memperkuat posisi Batfest sebagai festival yang berpihak pada ekonomi kreatif lokal.

Festival sebagai Ruang Budaya dan Ekonomi

Kehadiran musik, budaya, dan UMKM dalam satu panggung menjadikan Batfest lebih dari sekadar hiburan. Festival ini menjadi ruang distribusi nilai budaya sekaligus penggerak ekonomi masyarakat Batulicin dan sekitarnya.

Interaksi antara penonton, musisi, dan pelaku usaha menciptakan ekosistem kreatif yang hidup selama lima hari penyelenggaraan.

Batfest dan Identitas Batulicin

Batfest 2025 memperlihatkan bagaimana festival dapat menjadi medium perayaan identitas daerah. Dengan memberi ruang luas bagi band lokal dan budaya setempat, Batfest menegaskan Batulicin bukan hanya penonton, tetapi pelaku utama dalam panggung kebudayaan.

Melalui panggung musik dan budaya, Batfest 2025 membuktikan bahwa kreativitas daerah memiliki daya saing, selama diberi ruang, kepercayaan, dan panggung yang layak.

Baca Juga : AS Dukung Pelestarian Warisan Budaya dan Museum Indonesia

Cek Juga Artikel Dari Platform : carimobilindonesia

By Blacky