Pemerintah Kabupaten Bojonegoro terus mematangkan rencana besar pembangunan infrastruktur strategis berupa Jalan Lingkar Selatan (JLS). Proyek ini diproyeksikan menjadi solusi penting untuk mengurai kemacetan, memperlancar mobilitas masyarakat, sekaligus mendorong pemerataan ekonomi di wilayah Bojonegoro dan sekitarnya.
Langkah konkret dilakukan melalui pemaparan Hasil Studi Kelayakan Pembangunan Jalan Lingkar Selatan yang terintegrasi dengan flyover. Pemaparan tersebut disampaikan oleh Tim Pusat Kajian LKFT Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), yang hadir memberikan analisis teknis dan rekomendasi perencanaan.
Kegiatan pemaparan berlangsung pada Senin, 18 Februari 2026, bertempat di Ruang Angling Dharma. Forum ini menjadi bagian penting dari tahapan persiapan pembangunan, karena studi kelayakan merupakan dasar utama dalam menentukan desain, struktur, dampak ekonomi, serta efektivitas proyek dalam jangka panjang.
Infrastruktur Strategis untuk Mengurai Kemacetan
Jalan Lingkar Selatan dirancang sebagai jalur alternatif yang dapat mengurangi beban lalu lintas di pusat kota Bojonegoro. Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan kendaraan dan aktivitas ekonomi membuat sejumlah ruas jalan utama semakin padat, terutama pada jam sibuk.
Dengan adanya JLS, arus kendaraan berat maupun kendaraan lintas daerah diharapkan tidak lagi harus melewati pusat kota. Hal ini tidak hanya mengurangi kemacetan, tetapi juga meningkatkan keselamatan dan kenyamanan masyarakat.
Pembangunan jalan lingkar seperti ini juga sering menjadi kunci dalam penataan kota modern, karena mampu menghubungkan kawasan-kawasan strategis tanpa membebani jalur dalam kota.
Terintegrasi dengan Flyover untuk Efisiensi Mobilitas
Yang menjadi perhatian khusus dalam proyek ini adalah konsep integrasi dengan flyover. Flyover atau jalan layang dirancang untuk mengatasi titik-titik perpotongan lalu lintas yang rawan macet, sekaligus mempercepat pergerakan kendaraan.
Integrasi JLS dengan flyover menunjukkan bahwa proyek ini tidak hanya sekadar pembangunan jalan baru, tetapi juga mencakup desain infrastruktur yang lebih kompleks dan visioner.
Dengan flyover, potensi kemacetan di simpang-simpang besar dapat diminimalisir, sehingga jalur lingkar benar-benar berfungsi optimal sebagai pengurai arus kendaraan.
Pemaparan Studi Kelayakan oleh Tim UGM
Pemerintah Kabupaten Bojonegoro menggandeng institusi akademik ternama seperti Universitas Gadjah Mada untuk memastikan proyek ini dirancang secara matang dan berbasis kajian ilmiah.
Tim Pusat Kajian LKFT Fakultas Teknik UGM memaparkan hasil studi kelayakan yang mencakup berbagai aspek, seperti:
- Analisis kebutuhan transportasi
- Perencanaan jalur dan layout struktur jalan
- Kajian efisiensi lahan
- Dampak ekonomi dan sosial masyarakat
- Perkiraan biaya pembangunan dan pemeliharaan
- Potensi pengembangan kawasan baru
Studi kelayakan ini sangat penting agar pembangunan JLS tidak hanya berjalan cepat, tetapi juga tepat sasaran, efisien, dan memberikan manfaat jangka panjang.
Arahan Bupati: Efisien, Minimalis, Tapi Visioner
Bupati Bojonegoro Setyo Wahono yang hadir langsung dalam kegiatan tersebut memberikan penekanan agar pembangunan Jalan Lingkar Selatan tetap mengedepankan prinsip pemecahan masalah, sekaligus efisiensi anggaran.
Menurut Bupati, proyek besar seperti ini harus dirancang dengan konsep yang tepat, tidak boros lahan, dan tidak membebani keuangan daerah, namun tetap memberikan dampak ekonomi yang luas.
“Kita dorong konsep yang efisien dan minimalis namun tetap visioner. Salah satunya dengan mempertimbangkan struktur atau layout jalur yang lebih detail serta untuk efisiensi lahan dan struktur,” tegas Bupati.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa Pemkab Bojonegoro ingin memastikan pembangunan infrastruktur tidak hanya megah, tetapi juga realistis dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
Konsep minimalis di sini bukan berarti sederhana tanpa perhitungan, melainkan pembangunan yang tepat guna, efektif, dan tidak berlebihan.
Pemerataan Ekonomi Jadi Tujuan Utama
Selain mengurai kemacetan, proyek Jalan Lingkar Selatan juga dipandang sebagai motor baru pemerataan ekonomi. Infrastruktur jalan sering kali menjadi pemicu berkembangnya kawasan-kawasan baru.
Dengan hadirnya JLS, akses menuju wilayah selatan Bojonegoro akan semakin terbuka. Hal ini dapat mendorong pertumbuhan sektor:
- Perdagangan dan jasa
- Industri lokal
- Pariwisata daerah
- UMKM dan pusat ekonomi baru
- Distribusi logistik dan transportasi
Ketika akses lebih mudah, investasi juga lebih cepat masuk, sehingga pemerataan pembangunan tidak hanya terpusat di wilayah kota saja.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Meski perencanaan terus dimatangkan, pembangunan proyek besar seperti JLS tentu memiliki tantangan, mulai dari pembebasan lahan, kebutuhan anggaran, hingga dampak sosial bagi masyarakat sekitar jalur pembangunan.
Namun, dengan adanya studi kelayakan yang komprehensif dan arahan langsung dari Bupati, proyek ini diharapkan dapat berjalan lebih terukur dan minim hambatan.
Keterlibatan akademisi juga menjadi nilai tambah karena keputusan pembangunan didasarkan pada analisis data, bukan sekadar asumsi.
Infrastruktur sebagai Investasi Masa Depan
Pembangunan Jalan Lingkar Selatan Bojonegoro merupakan contoh bagaimana infrastruktur tidak hanya dilihat sebagai proyek fisik, tetapi sebagai investasi jangka panjang untuk masa depan daerah.
Dengan jalur yang terintegrasi flyover, konsep efisiensi lahan, serta orientasi pemerataan ekonomi, proyek ini diharapkan menjadi tonggak baru bagi Bojonegoro dalam memperkuat konektivitas wilayah.
Pemkab Bojonegoro berkomitmen untuk terus mematangkan perencanaan agar pembangunan JLS benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, baik dari sisi transportasi, ekonomi, maupun kualitas hidup.
Baca juga : Pembangunan Kampung Nelayan Sudah 50 Persen, Ini Progresnya
Cek Juga Artikel Dari Platform : pontianaknews

