Bupati Lucky Hakim menghadiri Musyawarah Daerah (Musda) Ke-VII Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Indramayu Tahun 2025 yang digelar di Ballroom Grand Trisulla Hotel, Senin (29/12/2025). Kehadiran orang nomor satu di Kabupaten Indramayu tersebut menjadi penegasan pentingnya peran ulama dan tokoh agama dalam mendukung pembangunan daerah yang berkelanjutan.
Musda VII MUI Kabupaten Indramayu tidak hanya menjadi agenda rutin organisasi, tetapi juga forum strategis untuk melakukan evaluasi kinerja, konsolidasi internal, serta merumuskan arah dan langkah ke depan dalam membimbing umat. Forum ini juga menjadi ruang refleksi bersama untuk memperkuat peran MUI sebagai mitra pemerintah dalam menjaga harmoni sosial, stabilitas daerah, serta kehidupan keagamaan yang moderat dan inklusif.
Pembangunan Daerah Tidak Cukup dengan Infrastruktur
Dalam sambutannya, Bupati Lucky Hakim menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Indramayu membuka ruang kerja sama dan sinergi yang luas dengan MUI. Menurutnya, pembangunan daerah tidak boleh hanya berfokus pada aspek fisik, infrastruktur, dan pertumbuhan ekonomi semata.
“Pemerintah Daerah sangat terbuka untuk bersinergi dengan MUI. Kami meyakini bahwa pembangunan daerah tidak hanya bertumpu pada aspek fisik dan ekonomi, tetapi juga harus ditopang oleh pembangunan mental dan spiritual masyarakat,” ujar Lucky Hakim di hadapan para ulama, kiai, dan tokoh masyarakat.
Ia menilai, tanpa fondasi mental dan spiritual yang kuat, pembangunan fisik berpotensi kehilangan arah dan nilai. Oleh karena itu, peran ulama dan organisasi keagamaan seperti MUI sangat dibutuhkan dalam membentuk karakter masyarakat yang berakhlak, toleran, dan berdaya saing.
MUI sebagai Mitra Strategis Pemerintah Daerah
Bupati Lucky Hakim menekankan bahwa MUI memiliki posisi strategis sebagai mitra pemerintah daerah, terutama dalam memberikan panduan keagamaan, nasihat moral, serta fatwa yang menyejukkan di tengah dinamika sosial yang terus berkembang.
Di era modern yang diwarnai arus informasi cepat dan perubahan nilai sosial, tantangan keumatan semakin kompleks. Mulai dari isu intoleransi, degradasi moral, hingga problem sosial ekonomi yang berdampak pada kehidupan masyarakat. Dalam konteks inilah, peran MUI menjadi semakin relevan.
“Sinergi antara pemerintah daerah dan MUI sangat penting agar setiap kebijakan pembangunan selaras dengan nilai-nilai agama dan kearifan lokal,” tambahnya.
Sejalan dengan Visi Indramayu REANG
Lucky Hakim juga mengaitkan peran MUI dengan visi pembangunan daerah, yakni Indramayu REANG. Visi tersebut menekankan pembangunan yang religius, ekonomi kerakyatan yang kuat, serta tata kelola pemerintahan yang baik.
Menurutnya, nilai religiusitas tidak hanya tercermin dalam kegiatan keagamaan formal, tetapi juga dalam perilaku sosial masyarakat sehari-hari, seperti kejujuran, kepedulian, dan semangat gotong royong.
“Visi Indramayu REANG tidak akan tercapai tanpa dukungan pembangunan mental dan spiritual. Di sinilah peran MUI menjadi sangat strategis dalam membina umat,” ujarnya.
Harapan Kepengurusan MUI yang Visioner
Melalui Musda VII ini, Bupati Lucky Hakim berharap akan lahir kepengurusan MUI Kabupaten Indramayu yang amanah, visioner, dan responsif terhadap dinamika sosial. Ia menilai, MUI ke depan harus mampu membaca perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri dan prinsip-prinsip Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
“Melalui Musda ke-VII ini, saya berharap akan lahir kepengurusan MUI Kabupaten Indramayu yang mampu menjawab tantangan keumatan dengan bijaksana, moderat, serta tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Islam yang membawa rahmat bagi semesta,” katanya.
Ia juga mengingatkan agar MUI terus menjadi penyejuk umat, bukan justru memperlebar perbedaan di tengah masyarakat yang majemuk.
Forum Konsolidasi Ulama dan Tokoh Masyarakat
Musda VII MUI Kabupaten Indramayu diikuti oleh unsur Forkopimda, jajaran pengurus MUI, alim ulama, kiai, ustaz, tokoh agama, serta tokoh masyarakat dari berbagai wilayah di Kabupaten Indramayu. Kehadiran lintas unsur ini menunjukkan kuatnya dukungan terhadap peran MUI sebagai perekat umat dan penjaga moral masyarakat.
Forum Musda menjadi ajang konsolidasi penting untuk menyatukan visi para ulama dalam menghadapi berbagai persoalan keumatan, baik di tingkat lokal maupun nasional. Isu-isu seperti pendidikan keagamaan, penguatan moderasi beragama, serta peran ulama dalam menjaga persatuan bangsa menjadi pembahasan yang relevan.
Tantangan Keumatan di Era Modern
Dalam konteks pembangunan mental dan spiritual, tantangan yang dihadapi umat saat ini semakin beragam. Perkembangan teknologi digital, media sosial, serta perubahan gaya hidup membawa dampak positif sekaligus tantangan tersendiri.
MUI diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam memberikan pencerahan kepada masyarakat, khususnya generasi muda, agar bijak dalam menyikapi informasi dan tetap berpegang pada nilai-nilai keagamaan.
Bupati Lucky Hakim menilai, pembangunan sumber daya manusia yang unggul tidak hanya ditentukan oleh pendidikan formal, tetapi juga oleh kualitas akhlak dan spiritualitas.
Komitmen Bersama untuk Indramayu yang Harmonis
Kehadiran Bupati Indramayu dalam Musda VII MUI menjadi simbol komitmen pemerintah daerah untuk terus melibatkan tokoh agama dalam setiap proses pembangunan. Pemerintah daerah dan MUI diharapkan dapat berjalan beriringan, saling melengkapi peran, serta bersama-sama menjaga keharmonisan sosial.
Musda VII MUI Kabupaten Indramayu pun diharapkan tidak hanya menghasilkan kepengurusan baru, tetapi juga rekomendasi strategis yang dapat menjadi panduan bersama dalam membangun masyarakat Indramayu yang religius, sejahtera, dan berkarakter.
Dengan pembangunan fisik yang ditopang pembangunan mental dan spiritual, Indramayu diharapkan mampu tumbuh sebagai daerah yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga kuat dalam nilai, etika, dan kebersamaan sosial.
Baca juga : Kolaborasi Kampus dan Pemprov Jateng, Pembangunan Berbasis Ilmu
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : pontianaknews

