Pemerintah Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, terus memperkuat pembinaan ideologi Pancasila bagi anak-anak dan remaja sebagai langkah pencegahan terhadap paparan paham ekstremisme. Upaya ini menyasar siswa sekolah formal hingga santri di pondok pesantren, dengan pendekatan edukatif yang menekankan penanaman nilai kebangsaan sejak dini.
Langkah tersebut dinilai penting seiring meningkatnya tantangan ideologi di era digital, di mana anak dan remaja semakin mudah terpapar berbagai paham melalui media sosial dan aplikasi pesan instan. Pemerintah daerah menilai penguatan nilai Pancasila menjadi fondasi utama dalam membangun ketahanan ideologi generasi muda.
Pembinaan Ideologi sebagai Langkah Pencegahan
Kepala Badan Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat Kabupaten Jepara, Ony Sulistijawan, menegaskan bahwa pembinaan ideologi Pancasila merupakan salah satu strategi utama pemerintah daerah dalam mencegah berkembangnya paham ekstrem di kalangan pelajar.
Menurut Ony, pembinaan ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi dirancang sebagai proses berkelanjutan untuk menanamkan nilai persatuan, toleransi, dan cinta tanah air.
“Kami bekerja sama dengan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila untuk menjalankan program pembinaan kepada siswa dan santri di Jepara,” ujar Ony.
Sekolah dan Pesantren Jadi Sasaran Utama
Ony menjelaskan bahwa pembinaan ideologi Pancasila tidak hanya difokuskan pada sekolah formal, tetapi juga menjangkau lingkungan pondok pesantren. Menurutnya, pesantren memiliki peran strategis dalam pembentukan karakter dan moral anak serta remaja.
Dengan menyentuh dua ruang pendidikan tersebut, pemerintah daerah berharap nilai-nilai Pancasila dapat dipahami secara utuh dan dihayati dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat.
Pembinaan dilakukan melalui dialog, diskusi kebangsaan, serta penguatan pemahaman tentang toleransi dan keberagaman sebagai ciri khas bangsa Indonesia.
Belajar dari Kasus Paparan Ekstremisme
Penguatan pembinaan ideologi ini tidak terlepas dari adanya kasus yang sempat menggemparkan publik. Seperti diberitakan sebelumnya, seorang anak berusia 14 tahun asal Jepara diduga terpapar ideologi kekerasan ekstrem. Anak tersebut bahkan sempat menunjukkan niat untuk melakukan tindakan kekerasan di lingkungan sekolah.
Dalam penanganan kasus tersebut, Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri turun tangan dengan melakukan pembinaan terhadap anak yang bersangkutan. Paparan ideologi kekerasan ekstrem diketahui terjadi melalui aplikasi WhatsApp, yang menjadi salah satu media utama penyebaran paham radikal di kalangan remaja.
Bukan Pelaku Utama, Anak Jadi Korban Paparan
Menanggapi kasus tersebut, Ony menegaskan bahwa anak yang terpapar bukanlah pengelola maupun admin grup ekstrem, melainkan hanya anggota biasa. Hal ini menunjukkan bahwa anak tersebut lebih tepat diposisikan sebagai korban paparan ideologi, bukan pelaku utama.
“Kasus ini memang hampir berbarengan dengan kasus SMA 7 Jakarta. Latar belakangnya juga hampir sama,” jelas Ony.
Pemerintah daerah menilai kasus ini menjadi peringatan serius bahwa ancaman ekstremisme bisa menyasar siapa saja, termasuk anak-anak yang masih berada dalam fase pencarian jati diri.
Peran Keluarga dan Lingkungan Sosial
Selain pembinaan di sekolah dan pesantren, Pemkab Jepara juga menekankan pentingnya peran keluarga dan lingkungan sosial dalam mencegah paparan ekstremisme. Orang tua diimbau lebih aktif mengawasi aktivitas digital anak, termasuk penggunaan media sosial dan aplikasi pesan.
Menurut Ony, sinergi antara sekolah, pesantren, keluarga, dan pemerintah menjadi kunci dalam membangun benteng ideologi yang kuat bagi generasi muda.
Komitmen Jangka Panjang Pemkab Jepara
Pemkab Jepara menegaskan bahwa pembinaan ideologi Pancasila akan terus dilakukan secara berkelanjutan, tidak hanya sebagai respons atas kasus tertentu. Program ini diposisikan sebagai investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi muda yang berkarakter, toleran, dan memiliki daya tangkal terhadap ideologi kekerasan.
Dengan penguatan nilai Pancasila sejak dini, pemerintah daerah berharap anak-anak Jepara dapat tumbuh sebagai generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kokoh secara ideologis dalam menghadapi tantangan zaman.
Baca Juga : Brimob Kawal Pembangunan Jembatan Pebayuran Bekasi
Cek Juga Artikel Dari Platform : faktagosip

