Presiden Prabowo Subianto memberikan apresiasi tinggi kepada para pekerja proyek yang terlibat dalam pembangunan hunian sementara (huntara) bagi korban banjir dan longsor di Kabupaten Aceh Tamiang. Apresiasi tersebut disampaikan langsung Presiden saat meninjau lokasi huntara sekaligus memimpin rapat koordinasi penanganan bencana di wilayah tersebut pada Kamis (1/1/2026).
Presiden menyebut pembangunan 600 unit huntara yang rampung dalam waktu sangat singkat sebagai sebuah prestasi nyata. Menurutnya, keberhasilan tersebut mencerminkan kerja keras, koordinasi yang solid, serta dedikasi tinggi para pekerja dan seluruh pihak yang terlibat di lapangan.
“Terima kasih kepada Danantara dan seluruh pihak yang sudah melakukan pekerjaan dengan sangat baik. Membangun 600 hunian dalam waktu singkat itu sebuah prestasi,” ujar Presiden Prabowo saat berada di lokasi.
Pembangunan huntara ini merupakan bagian dari respons cepat pemerintah dalam menangani dampak banjir dan longsor yang melanda Aceh Tamiang beberapa waktu lalu. Bencana tersebut menyebabkan ribuan warga kehilangan tempat tinggal dan memaksa mereka mengungsi dalam kondisi darurat. Kehadiran hunian sementara menjadi solusi krusial agar para korban dapat segera tinggal di tempat yang lebih layak, aman, dan manusiawi.
Melalui kolaborasi lintas BUMN yang dikoordinasikan oleh Danantara, pembangunan tahap awal sebanyak 600 unit huntara berhasil diselesaikan hanya dalam waktu enam hari. Proses pembangunan dilakukan secara maraton, dengan para pekerja bekerja selama 24 jam penuh tanpa henti, bergantian siang dan malam demi mengejar target penyelesaian sesuai jadwal.
Hunian sementara tersebut dijadwalkan mulai dihuni oleh warga terdampak pada 8 Januari 2026. Sebelum digunakan, seluruh unit telah melalui pengecekan kelayakan dan kesiapan oleh Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, yang turun langsung ke lapangan untuk memastikan kualitas bangunan dan fasilitas pendukung.
Tak sekadar menyediakan tempat tinggal, kawasan huntara Aceh Tamiang juga dilengkapi berbagai fasilitas penunjang kehidupan sehari-hari. Di lokasi tersebut tersedia 120 unit toilet dan kamar mandi, 14 musala, 14 dapur umum, jaringan listrik, akses air bersih, serta layanan wifi gratis. Selain itu, disiapkan pula area bermain anak untuk mendukung pemulihan psikososial keluarga korban bencana.
Fasilitas yang relatif lengkap ini dirancang agar warga tidak hanya memiliki atap untuk berteduh, tetapi juga dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih nyaman dan bermartabat selama masa transisi sebelum hunian permanen dibangun.
Presiden Prabowo dalam kunjungannya tampak meninjau langsung kondisi huntara, mulai dari bagian luar bangunan hingga interior unit. Ia menyempatkan diri berdialog singkat dengan petugas dan melihat langsung kualitas material serta tata ruang hunian. Kunjungan tersebut sekaligus menjadi bentuk perhatian Presiden terhadap kondisi nyata para korban bencana dan upaya pemulihan yang sedang berlangsung.
Menurut Presiden, kecepatan dan ketepatan penanganan pascabencana merupakan kunci untuk mencegah dampak sosial yang lebih luas. Ia menekankan bahwa negara harus hadir secara nyata, tidak hanya melalui kebijakan di atas kertas, tetapi melalui tindakan langsung yang dirasakan masyarakat.
Keberhasilan pembangunan huntara Aceh Tamiang juga menunjukkan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat, BUMN, pemerintah daerah, dan para pekerja lapangan. Dalam kondisi darurat, birokrasi yang kaku harus diubah menjadi kerja kolaboratif yang cepat, terukur, dan tetap menjaga kualitas.
Para pekerja proyek yang terlibat di lapangan menjadi ujung tombak dari seluruh upaya tersebut. Di tengah kondisi cuaca yang tidak selalu bersahabat dan keterbatasan waktu, mereka tetap bekerja dengan penuh tanggung jawab. Banyak di antara mereka yang harus bekerja jauh dari keluarga, menahan lelah, dan beristirahat dalam waktu terbatas demi memastikan hunian selesai tepat waktu.
Bagi masyarakat Aceh Tamiang, rampungnya huntara bukan sekadar soal bangunan fisik. Hunian sementara ini menjadi simbol harapan dan awal pemulihan kehidupan setelah bencana. Dengan adanya tempat tinggal yang layak, warga dapat mulai menata kembali aktivitas sehari-hari, memulihkan kesehatan, serta mengurangi beban psikologis akibat kehilangan rumah.
Pemerintah menegaskan bahwa pembangunan huntara hanyalah tahap awal dari proses pemulihan pascabencana. Tahap berikutnya akan difokuskan pada pembangunan hunian tetap, perbaikan infrastruktur dasar, serta pemulihan ekonomi masyarakat. Presiden Prabowo meminta agar seluruh proses tersebut dilakukan secara terencana, transparan, dan berpihak pada kepentingan warga terdampak.
Apresiasi Presiden kepada para pekerja proyek menjadi pengakuan atas peran penting mereka dalam penanganan bencana. Di balik cepatnya pembangunan dan megahnya fasilitas, terdapat kerja keras manusia-manusia yang bekerja tanpa sorotan, namun hasilnya langsung dirasakan oleh masyarakat yang paling membutuhkan.
Keberhasilan pembangunan 600 huntara di Aceh Tamiang dalam waktu singkat ini diharapkan dapat menjadi contoh penanganan bencana yang cepat, terkoordinasi, dan berorientasi pada kemanusiaan di berbagai wilayah lain di Indonesia.
Baca Juga : Papua di Persimpangan Nurani Negara dan Arah Pembangunan
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : seputardigital

